Mar'06
10

Aneh, kok pada nolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ?

Sudah hampir tujuh tahun RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi terkatung-katung. Apa masalahnya ? Ada yang pro dan ada yang kontra. Banyakan yang mana ? ternyata dari 167 Ormas yang diundang DPR hanya 23 Ormas yang menolak. Lalu ? Kita harus menghormati suara minoritas, aspirasi mereka tetap diperhitungkan, begitu juga kita tidak boleh mengabaikan suara mayoritas.

Herannya, saya kecewa dengan pemberitaan media massa yang berat sebelah. Media begitu gencarnya memberitakan demonstrasi penolakan dari para artis dan aktivis perempuan dari LSM-LSM seolah-olah penentang RUU APP sangat banyak.

Mengutip tulisan dari Republika :

Jalan yang harus dilalui Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) untuk menjadi undang-undang (UU) masih terjal. Kelompok penolaknya makin giat menggelar kampanye. Hari Perempuan Sedunia yang jatuh 8 Maret menjadi momen kampanye. Artis dan model menggelar aksi di bundaran HI

Pada tanggal itu pula, budayawan –yakni orang yang berkecimpung dalam kebudayaan– ternama Goenawan Mohamad, menulis artikel di Koran Tempo berjudul ‘RUU Porno’: Arab atau Indonesia?. Saya mempersepsi, penyingkatan RUU APP menjadi ‘RUU Porno’ bukan tanpa motif. Lewat artikel ini, sangat terkesan budayawan tersebut menganggap dengan disahkannya RUU APP, aktivitas seni dan budaya akan kekeringan kreativitas. Dia juga menganggap RUU APP merupakan bentuk adopsi nilai-nilai dunia Arab. Sehari sebelumnya, 7 Maret, di Taman Budaya Yogyakarta, juga berlangsung aksi penolakan dihadiri seniman seperti Djaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa, dan Djoko Pekik. Sikap mereka sama dengan mantan presiden Megawati, serta mantan ketua umum Golkar Akbar Tanjung, yang menyatakan penolakan RUU APP di Bali.

Ada beberapa alasan yang biasanya dipakai para penentang RUU APP ini:

  1. Mengekang kebebasan perempuan. Padahal, kalau kita lihat pasal demi pasal,tidak ada kata-kata yang menyudutkan perempuan,selalu menggunakan kata-kata ‘setiap orang yang…’
  2. Bertentangan dengan adat sebagian wilayah seperti Bali dan Papua. Padahal, dalam diskursus soal pornografi yang berjalan selama ini, masyarakat dari kedua wilayah tersebut tidak pernah ikut dihitung. Mengapa tiba-tiba mereka dijadikan ‘tameng’? sungguh logika yang dipaksakan.
  3. Sudah ada di KUHP, jadi tidak perlu UU. Padahal, kalo KUHP saja sudah cukup, ternyata pornografi dan pornoaksi tetap marak, artinya UU sangat diperlukan. Negara lain saja, bahkan di ASEAN sudah punya UU yg mengatur pornografi.
  4. menuding RUU APP sebagai bentuk intervensi negara terhadap ruang privat warga negaranya. Alasan ini kerap sekali terdengar. RUU APP seolah-olah dianggap hanya mengatur masalah pakaian dan tubuh perempuan an sich. Padahal, Sensualitas yang dibatasi RUU APP adalah sensualitas yang memasuki ruang publik. Karena itu, istilah ”dipertontonkan di muka umum”, ”disiarkan/menyiarkan”, ”menyebarkan”, bertebaran dalam draf RUU tersebut. Sensualitas yang berada di ruang privat, memang tidak boleh dijangkau negara. Urusannya menjadi lain jika sensualitas itu memasuki ruang publik.
  5. Porno itu multitafsir, UU ini akan berbahaya karena akan mengangkap siapa saja yang dianggap porno menurut otak/kepala siapa. Padahal, semua sepakat pornografi adalah hal yang selalu mengundang syahwat. kalau porno dianggap multitafsir,tentu banyak sekali produk UU yang dianggap multitafsir.
  6. Alasan klasik, membatasi kreativitas seni. Kreasi seni dan budaya menjadi kering. Ini amat melecehkan derajat para seniman dan budayawan. Secara tidak langsung, argumentasi ini menganggap kreativitas seniman dan budayawan hanya mampu berada di area sensual. Karenanya, hasil karya mereka menjadi kering ketika area itu dibatasi.
  7. Batasan pornografi dan pornoaksi tidak jelas. Ini bentuk pengaburan belaka. Padahal, Draf RUU tersebut telah membuat definisi yang jelas soal pornografi dan pornoaksi itu.

Hmmm….Ada apa dibalik penolakan RUU APP ini ?? Anda tentu sapat menebaknya.

daftar instaforex indonesia

12 Responses to “Aneh, kok pada nolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ?”. Add Yours

  1. #1

    sanurian

    ada apa di balik RUU ini? mungkin mau dijadikan negara Islam. Sekarang sih ngaturnya baru sebatas nutup paha dan sebagainya itu, mungkin sepuluh atau duapuluh tahun lagi semua disuruh pakai jilbab, yang laki-laki disuruh pakai peci. Pornografi itu memang betul selalu berarti negatif, selalu mengundang orang untuk melakukan sesuatu yang jelek, tapi yang namanya seni dan pornografi ga bisa dicampur. Ga ada istilah pornografi dalam bidang seni, jadi kalo ada yang bilang ‘memang seni sesempit itu ya, cuma bisanya porno-pornoan doang?’ jelas ini salah total. gambar telanjang dalam bidang seni bukan berarti pornografi. Ketelanjangan seorang manusia dalam bidang seni adalah keindahan dan anugrah Tuhan, BUKAN PORNOGRAFI. Gambar itu akan menjadi porno kalo pikiran kita aja yang jelek. Dan kalo membatasi perempuan, jelaslah. Karena siapa lagi sih yang punya baju-baju modis macam rok mini dan hipster? Ibaratnya kan makhluk yang namanya perempuan aja yang kerjaannya bikin dosa. Padahal yang pikirannya ngeres liat rok mini kan cowo-cowo. Ngapain sih bikin RUU yang mengatur cara orang berpakaian? Kan ga masuk akal. Orang miskin aja belum diurusin, kalo kayak gini sih nambah-nambah masalah aja. Dan biarpun yang kontra cuma sedikit, tetep aja kita kan bagian dari Indonesia juga. Dasar pada ga punya jiwa seni, ga ngerti seni aja sok mau ngomong. Semuanya egois,, apaan tuh, pake membentuk tim pengawal buat RUU? Emangnya ada yang mau nyolong? Kesannya kok memaksakan kehendak banget sih? Yang pro kalo udah kehabisan ide buat ngomong selalu dalihnya ‘yang kontra kan cuma sedikit’. Oke, sedikit, trus knapa? Mayoritas belom tentu bener kan? Dan bangsa ini kan ga bakal hancur cuma gara-gara rok mini, ya Tuhan. Yang harus diawasi ketat tuh situs-situs porno, majalah-majalah porno,tempat-tempat dugem ga bener, semacam itulah. Jangan yang diurusin cara orang pake baju. Terserah deh kita masuk surga apa engga. Seengganya kalo Tuhan mau lempar orang-orang kontra ini ke neraka, DIA bisa mikir, kami seengganya GA MUNAFIK.

    Orang-orang pro sama RUU ini kan suci semuanya kan? Ya kan? Semua yang setuju RUU ini pastilah baik, anak Tuhan semua. jadi tolong doakan kami yang kontra ya, jangan dicaci maki. Katanya anak Tuhan, kok kerjaannya mencaci maki orang ya? Mentang-mentang argumentasinya basi dan munafik.

  2. #2

    Abay

    Ya sech…Diajak selamat dunia akhirat kok ga mau…
    Atau mungkin dendanya ketinggian.
    Tp gw dukung 100% RUU anti pornografi&pornoaksi.
    Kan enak kalo hidup lebih Islami,..
    tapi yang namanya Iblis udah ditakdirkan kok bwt menyesatkan mansia..
    Moga kita sll berada dlm jln yang di Ridhoi Allah SWT,Amin.

  3. #3

    Rendra

    blog gw pindah ….

    http://www.rendra.net/

    ganti linknya ya..

  4. #4

    Rendra

    ok.. gw dukung ruu itu..

  5. #5

    sat

    RUUnya banyak banget sampe 7 bab

  6. #6

    dimas

    aku setuju banget ama ruu app, tapi mungkin memang ada beberapa substansinya yang masi harus di lebih diperjelas lagi..
    ancaman neo imperalism dari budaya barat yang bertentangan dengan budaya kita dan mempunyai akibat yang sangat merusak terhadap moral bangsa kita, menuntut kita harus mempunyai suatu pagar untuk dapat menahan penjajahan ini yaitu ruu app..

  7. #7

    ina

    Dengan mengesampingkan soal patokan agama manapun, dari sisi manapun RUU Pornografi dan pornoaksi tidak dapat diberlakukan. Dengan satu alasan yang pasti, jika berbicara tentang hukum, ada KUHP dan UU Pers dan Kode Etik Junalistik dan sudah dengan cukup jelas dan tegas mengatur segala bentuk porno, jadi tidak perlu ada yang namanya UU app. Yang menjadi PR kita semua adalah bagaimana kita dapat membenahi moral karena disetiap harinya arus informasi tak mungkin dapat dibendung apapun itu bentuknya. Inilah yang disebut dengan globalisasi, kalau kita bisa diributkan dengan hal seperti ini berarti kita belum siap dengan globalisasi yang sudah digemborkan 5 tahun yang lalu, jadi bagi umat beragama setidaknya semakin mempertebal iman masing-masing, dan bukan saling meributkan hal yang tidak pantas untuk diributkan.

  8. #8

    sinyo

    assalamu’alaikum saya setuju dengan adanya uu APP tersebut, karena di zaman sekarang ini bukan zamannya yang gila tapi orangnya yang pada gila sebagaimana Rosulullah bersabda, bahwa akan muncul suatu zaman yang pada saat itu wanita tidak mempunyai rasa malu lagi.” nah hadist ini bisa dimaksud dengan setiap manusia itu sudah terang-terangan untuk membuka aurotnya.

  9. #9

    DENY

    mayoritas dong yang semestinya didengar …bukan yang minoritas….itu baru demokrasi namanya….HIDUP DEMOKRASI…!!! yang minoritas jangan macam macam INI NEGARA DEMOKRASI LHO….camkan itu…

  10. #10

    Beny

    wah saya kasihan pada anda-anda, krn tujuan akhir dari RUU APP adalah sistem kholifah dimana negara indonesia akan dipimpin oleh seorang khalifah yg pasti punya istri banyak seperti nabi muhammad (seorang makelar/pedagang)

  11. #11

    syarif

    Tolong RUU APP itu juga mengatur orang di Indonesia jangan memakai Jilbab, karena hasrat seksual saya pasti naik kalau lihat cewek berjilbab, gimana nih Bapak/Ibu di DPR yang goblooooooooook yang membuat RUU ini, banyak loh temen gw yang cuma lihat mata cewek langsung terangsang, kalau gitu kita musnahkan aja wanita di dunia ini,,,, dasar gobloooooook sich banget Bapak/Ibu di DPR yang membuat RUU ini , mengatur cara berpakaian seseorang, atur aja iman loe orang supaya jangan korupsi lagi, kita memang bukan Amerika tapi jg bukan Arab Saudi, kita ini Indonesia, selama ini saya belum melihat orang memamerkan auratnya di depan umum kecuali orang gila, jadi gue rasa salah satu pasal itu hanya utk org gila seperti Bapak/Ibu di DPR yang setuju RUU ini, atau Bapak di DPR yang menyetujui RUU ini dulunya pemerkosa yah, jadi takut lihat cewek seksi nanti memperkosa lagi….goblooooooooook banget sih yang setuju isi RUU ini, otak dan iman orang Indonesia di anggap Idiot ama Wakil Rakyat kita……..

  12. #12

    Rico Candra

    five holds

Replying is good.